Selasa, 12 Juli 2016

Prediksi Efisiensi Bank Umum Syariah di Indonesia


Pengukuran efisiensi sangat diperlukan dalam kerangka maksimisasi output dan minimisasi input. Apalagi bank syariah di Indonesia yang harus berhadapan dengan bank konvensional yang sudah lebih dahulu "makan asam garam" industri ini.
Riset pengukuran efisiensi perbankan, didominasi oleh pendekatan nonparametrik DEA, dibanding parametrik. Namun riset efisiensi DEA masih tidak begitu banyak variasi dari sisi analisis. Padahal, banyak sekali 'angle' analisis yang dapat dilakukan melalui metode yang pertama dikembangan Charnes Cooper dan Rhodes ini.

Sebut saja beberapa analisis minorstream DEA antara lain: Super efisiensi, Slack based Measure (SBM) Model, analisis sensitivitas DEA, window analysis, dan banyak lagi. Salah satu yang jarang digunakan adalah penggunaan DEA untuk prediksi efisiensi. SMART sebagai lembaga yang fokus riset ekonomi keuangan syariah, mencoba mengaplikasikannya.
Data yang digunakan adalah seluruh Bank Umum Syariah periode 2011-2014 berjumlah 11 bank. Data variabel input dan output didapat dari laporan neraca dan laba rugi masing-masing bank. Sebagai variabel input adalah Dana Pihak Ketiga (X1) dan Biaya Personalia (X2) dan Biaya Administrasi (X3). Sementara itu untuk variabel output yaitu Total Pembiayaan (Y1) dan Pendapatan Operasional (X2).
Tahap pertama, dilakukan lebih dahulu forecast terhadap variabel-variabel di atas dengan 2 skema: lower dan upper. Lower untuk proyeksi pesimis dan upper untuk optimis. Setelah didapat, hasil forecast kemudian kembali diolah dengan DEA. Sehingga menunjukkan 2 hasil prediksi nilai efisiensi di masa mendatang untuk setiap BUS yang diteliti.
Penelitian-penelitian terkait industri perbankan dan keuangan syariah harus banyak dilakukan. Jika 10 tahun silam hal ini (baca: RnD) tidak begitu perlu dilakukan, karena usia bank syariah yang masih 'infant', maka saat ini urgensi riset dalam dunia ekonomi Islam menjadi lebih penting. Usia hampir 25 tahun terhitung sejak berdirinya bank syariah pertama tahun 1992 menjadi fakta. Kini, bank syariah sudah mulai memasuki masa "remaja" dan semestinya lebih dewasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar