Kamis, 13 Juni 2013

BUKU DEA RAMANATHAN: AN INTRODUCTION TO DEA

'This book is an excellent tool for practitioners who are interested in the merits and pitfalls of the technique.... (The author's) research is an example of inventiveness, diligence and accuracy' - Freerk A. Lootsma, Delft Institute of Technology

Data envelopment Analysis is a Mathematical Programme for measuring performance efficiency of organizational units. The organizational units, termed as decision-making units (DMU) can be of any kind: manufacturing units, a set of schools, banks, hospitals, power plants, police stations, prisons, a set of firms etc.

DEA has been unsuccessfully applied to measure the performance efficiency of these different kinds of DMUs which share a common characteristic - that they are non-profit organization where measurement of performance efficiency is difficult.

DEA has been employed for assessing the relative performance of a set of firms that use a variety of identical inputs-say in the case of a school: quality of students, teachers, grants etc.,-to produce a variety of identical outputs-number of students who pass the final year, average grades obtained by the students in the final year etc.

DEA assumes the performance of the DMUs by using the concepts of efficiency or productivity which is measured as the ratio of total outputs to total inputs. Also, the efficiencies estimated are relative to the best performing DMU or DMUs. The best performing DMU is given a score of 100% and the performance of other DMUs vary between 0 -100%.

Rabu, 12 Juni 2013

BUKU TENTANG DEA: METODOLOGI PENELITIAN EKONOMI ISLAM

Buku ini mengkaji lebih dalam metodologi-metodologi aplikatif dan powerful yang dapat diaplikasikan bagi penelitian di bidang ekonomi Islam seperti zakat, lembaga keuangan syariah, manajemen dan bisnis syariah, ekonomi makro dan mikro. beberapa yang dikupas tuntas adalah metode Analytical Network Process (ANP), Data Envelopment Analysis (DEA), dan Vector Autoregression (VAR) model.

Dapatkan dan pesan bukunya sekarang juga.

BUKU: New Efficiency Theory: With Applications of Data Envelopment Analysis

New efficiency theory refers to the various parametric and semi-parametric methods of estimating production and cost frontiers, which include data envelopment analysis (DEA) with its diverse applications in management science and operations research. 

This monograph develops and generalizes the new efficiency theory by highlighting the interface between economic theory and operations research. Some of the outstanding features of this monograph are: (1) integrating the theory of firm efficiency and industry equilibrium, (2) emphasizing growth efficiency in a dynamic setting, (3) incorporating uncertainty of market demand and prices, and (4) the implications of group efficiency by sharing investments. 

Applications discuss in some detail the growth and decline of the US computer industry, and the relative performance of mutual fund portfolios.

Selasa, 11 Juni 2013

Fuzzy DEA

Data envelopment analysis (DEA) is a methodology for measuring the relative efficiencies of a set of decision making units (DMUs) that use multiple inputs to produce multiple outputs. Crisp input and output data are fundamentally indispensable in conventional DEA. 
 
However, the observed values of the input and output data in real-world problems are sometimes imprecise or vague. Many researchers have proposed various fuzzy methods for dealing with the imprecise and ambiguous data in DEA. 
 
 In this study, we provide a taxonomy and review of the fuzzy DEA methods. We present a classification scheme with four primary categories, namely, the tolerance approach, the a-level based approach, the fuzzy ranking approach and the possibility approach. We discuss each classification scheme and group the fuzzy DEA papers published in the literature over the past 20 years.

Jumat, 24 Mei 2013

Two Stages DEA (DEA Dua Tahap)



Selain metode yang lazim digunakan dalam pengukuran tingkat efisiensi dengan DEA, dikenal pula dengan Two Stages DEA atau DEA dua tahap. First Stage: Metode Data Envelopment Analysis (DEA). Metode DEA adalah sebuah metode frontier non parametric yang menggunakan model program linier untuk menghitung perbandingan rasio output dan input untuk semua unit yang dibandingkan dalam sebuah populasi. Tujuan dari metode DEA adalah untuk mengukur tingkat efisiensi dari decision-making unit (DMU ie.bank) relatif terhadap bank yang sejenis ketika semua unit-unit ini berada pada atau dibawah “kurva” efisien frontier-nya. Jadi metode ini digunakan untuk mengevaluasi efisiensi relatif dari beberapa objek (benchmarking kinerja).
Metode DEA menghitung efisiensi teknis untuk seluruh unit. Skor efisiensi untuk setiap unit adalah relatif, tergantung pada tingkat efisiensi dari unit-unit lainnya di dalam sampel. Setiap unit dalam sampel dianggap memiliki tingkat efisiensi yang tidak negatif, dan nilainya antara 0 dan 1 dengan ketentuan satu menunjukkan efisiensi yang sempurna. Selanjutnya, unit-unit yang memiliki nilai satu ini digunakan dalam membuat envelope untuk frontier efisiensi, sedangkan unit lainnya yang ada di dalam envelope menunjukkan tingkat inefisiensi.
Skor Efisiensi DEA = Output / Input

       Second Stage: Model Regresi Tobit. Metode Tobit mengasumsikan bahwa variabel-variabel bebas tidak terbatas nilainya (non-censured); hanya variabel tidak bebas yang censured; semua variabel (baik bebas maupun tidak bebas) diukur dengan benar; tidak ada autocorrelation; tidak ada heteroscedascity; tidak ada multikolinearitas yang sempurna; dan model matematis yang digunakan menjadi tepat. Dalam penggunaan metode analisis regresi untuk penelitian bidang sosial dan ekonomi, banyak ditemui struktur data dimana variabel responnya mempunyai nilai nol untuk sebagian observasi, sedangkan untuk sebagian observasi lainnya mempunyai nilai tertentu yang bervariasi. Struktur data seperti ini dinamakan data tersensor (censored data).

Pendekatan Input Output Perbankan



Untuk menghitung efisiensi suatu lembaga keuangan dapat dilakukan dengan memperhatikan aktivitasnya. Ada tiga pendekatan di dalam menjelskan hubungan antara input dan output dari bank, yaitu :
1)      Pendekatan Produksi
Pendekatan ini melihat institusi finansial sebagai produser dari rekening tabungan dan kredit pinjaman. Pendekatan ini mendefinisikan output sebagai penjumlahan dari rekening-rekening tersebut atau rekening-rekening terkait.
2)      Pendekatan Intermediasi
Pendekatan ini menggambarkan kegiatan perbankan sebagai lembaga intermediasi yang mentrasformasi dana dari deposan (surplus spending unit) kepada peminjam (deficit spending unit). Dengan kata lain, dana pihak ketiga yang cendrung likuid, berjangka pendek, dengan resiko yang rendah ditransformasikan menjadi pembiayaan yang lebih berisiko, tidak likuid dan berjangka panjang. Oleh karena itu, pendekatan ini mendefinisikan input sebagai financial capital dan output sebagai volume pembiayaan atau investment outstanding.
3)    Pendekatan Modern. Pendekatan ini merupakan perbaikan dari kedua bentuk pendekatan di atas dengan memasukkan unsur manajemen risiko, proses informasi dan agency problems ke dalam teori perusahaan klasik. Pendekatan ini memperkenalkan perbedaan antara manajer bank dengan pemilik bank di dalam perilaku memaksimalkan keuntungan.

Tiga Macam Efisiensi


Dalam sudut pandang perusahaan dikenal tiga macam efisiensi, yaitu:
1)      Technical Efficiency yang merefleksikan kemampuan perusahaan untuk mencapai level output yang optimal dengan menggunakan tingkat input tertentu. Efisiensi ini mengukur proses produksi dalam menghasilkan sejumlah output tertentu dengan menggunakan input seminimal mungkin. Dengan kata lain, suatu proses produksi dikatakan efisien secara teknis apabila output dari suatu barang tidak dapat lagi ditingkatkan tanpa mengurangi output dari barang lain.
2)      Allocative Efficiency, merefleksikan kemampuan perusahaan dalam mengoptimalkan penggunaan inputnya dengan struktur harga dan tekhnologinya. Terminologi efisiensi Pareto sering disamakan dengan efisiensi alokatif untuk menghormati ekonom Italia Vilfredo Pareto yang mengembangkan konsep efficiency inexchange. Efisiensi Pareto mengatakan bahwa input produksi digunakan secara efisien apabila input tersebut tidak mungkin lagi digunakan untuk meningkatkan suatu usaha tanpa menyebabkan setidak-tidaknya keadaan suatu usaha yang lain menjadi lebih buruk. Dengan kata lain, apabila input dialokasikan untuk memproduksi output yang tidak dapat digunakan atau tidak diinginkan konsumen, hal ini berarti input tersebut tidak digunakan secara efisien. 
3) Economic Efficiency, yaitu kombinasi antara efisiensi teknikal dan efisiensi alokatif. Efisiensi ekonomis secara implisit merupakan konsep least cost production. Untuk tingkat output tertentu, suatu perusahaan produksinya dikatakan efisien secara ekonomi jika perusahaan tersebut menggunakan biaya dimana biaya per unit dari output adalah yang paling minimal. Dengan kata lain, untuk tingkat output tertentu, suatu proses produksi dikatakan efisien secara ekonomi jika tidak ada proses lainnya yang dapat digunakan untuk memproduksi tingkat output tersebut pada biaya per unit yang paling kecil.