Senin, 11 April 2016

Mapping Efisiensi Perbankan Syariah 2016


SMART Consulting, sebuah lembaga riset ekonomi keuangan syariah di Indonesia, telah melakukan penelitian mengenai Pemetaan Efisiensi Bank Syariah di Indonesia Tahun 2016. Dengan menggunakan data mutakhir yang diterbitkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bulan Februari 2016 dan pendekatan intermediasi, diperolah beberapa temuan. 

Dipilih sebagai variabel input yaitu: Aset dan Dana Pihak Ketiga (DPK). Sementara itu untuk variabel output adalah Pembiayaan Modal Kerja, Investasi dan Pembiayaan Konsumsi. Dengan menggunakan metode Data Envelopment Analysis (DEA) dibantu aplikasi GIS, didapatkan kelompok daerah berdasarkan tingkat efisiensinya.

Pertama adalah daerah/provinsi dengan tingkat efisiensi antara 92.73-100%. Kelompok pertama ini terdiri dari 15 provinsi yaitu: Bengkulu, Gorontalo, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kepulauan Riau, Lampung, NTT, Sulawesi Barat, Sulawesi Utara, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bali, Bangka Belitung, dan Jawa Tengah.

Kelompok kedua adalah daerah/provinsi dengan tingkat efisiensi antara 83.02-92.73%. Kelompok kedua ini terdiri dari 7 provinsi yaitu: Jawa Timur, NTB, Kalimantan Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Provinsi Papua. Adapun kelompok ketiga  dengan tingkat efisiensi antara 67.90-83.02% terdiri dari 4 provinsi yaitu: Provinsi Banten, Jawa Barat, Sumatera Selatan dan Kalimantan Timur.

Kelompok keempat adalah daerah dengan tingkat efisiensi antara 48.23-67.90%. Kelompok ini terdiri dari 4 provinsi yaitu: Aceh, Riau, DKI Jakarta dan DI Yogyakarta. Sementara kelompok kelima  dengan tingkat efisiensi di bawah 48.23% terdiri dari 3 provinsi yaitu: Maluku Utara, Papua Barat dan Provinsi Maluku. 

Selasa, 01 Maret 2016

Rumus Produktivitas

Produktivitas adalah ujian pertama kemampuan manajemen. (Peter F. Drucker, penulis buku Management by Objective). Istilah produktivitas (productivity) sudah muncul tahun 1766 dari artikelnya Francois Quesnay, ekonom Perancis. Produktivitas kemudian menjadi sebuah konsep output dengan input yang pertama kali dicetuskan oleh David Ricardo dan Adam Smith pada tahun 1810. Inti konsepnya adalah bagaimana output akan berubah jika bersama input berubah.

Secara sederhana produktivitas merupakan rasio output dengan input. Di industri manufaktur output bisa berupa produk hasil aktivitas manufaktur, sedangkan input bisa berupa seluruh sumber daya yang digunakan. Tujuan utama industri manufaktur adalah peningkatan produktivitas.

Terdapat suatu keyakinan bahwa peningkatan produktivitas akan memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan ekonomi. 

Minggu, 07 Februari 2016

Konsep Produktivitas dalam DEA

Konsep produktivitas pada dasarnya merupakan hubungan antara output dan input dalam sebuah proses produksi. Produktivitas dapat diukur secara parsial maupun secara total. Produktivitas parsial merupakan hubungan antara output dengan satu input. Contoh produktivitas parsial yang lazim digunakan adalah produktivitas tenaga kerja yang menunjukkan rata-rata output per tenaga kerja, demikian juga produktivitas capital yang menggambarkan rata-rata output per capital.
Produktivitas total atau biasa disebut dengan Total Factor Productivity (TFP) mengukur hubungan antara outputdengan beberapa input secara bersama-sama. Hubungan tersebut dinyatakan dalam rasio dari indeks output terhadap indeks input agregat. Jika rasio meningkat berarti lebih banyak output dapat diproduksi menggunakan jumlah input tertentu, atau sejumlah output dapat diproduksi dengan menggunakan lebih sedikit input.
Dalam pengukuran produktivitas, yang paling banyak dipakai adalah metode total factor productivity (TFP). Metode ini dipakai untuk mengatasi kelemahan perhitungan efisiensi yang lebih dari satu input dan satu output. TFP diukur dengan menggunakan angka indeks yang dapat mengukur perubahan harga dan kuantitas sepanjang waktu. Selain itu, TFP juga mengukur perbandingan dan perbedaan antar entitas.
Indeks TFP ab mengukur perubahan nilai output sejumlah N terpilih dari periode “a” ke “b” dimana p mewakili harga output. Indeks yang sering digunakan untuk mengukur TFP adalah Indeks Malmquist, Indeks Laspeyres, Indeks Pasche, Indeks Fisher dan Indeks Tornqvist. Mayoritas dalam penelitian, yang digunakan untuk menghitung tingkat produktivitas (TFP) adalah Indeks Malmquist (Rusydiana, 2016).


Rabu, 03 Februari 2016

Analisis DEA [Advance]

Dalam metode Data Envelopment Analysis (DEA), analisis utama adalah pengukuran tingkat efisiensi DMU yang menjadi objek penelitian. Selanjutnya, yang paling banyak dianalisis dalam literatur-literatur DEA adalah terkait potential improvement atau potensi-potensi perbaikan bagi DMU yang tidak efisien. DI luar itu, sesungguhnya banyak sekali sub-sub analisis terkait DEA yang sangat bermanfaat dalam penelitian. Berikut di bawah ini adalah beberapa analisis DEA yang bersifat "basic" hingga yang sifatnya "advance".

Skor Efisiensi. Analisis Return to Scale. Increasing Return to Scale (IRS). Decreasing Return to Scale (DRS). Unit Details per DMU. Potensi perbaikan. Slack. Target. Reference Comparison. Kontribusi Reference. Kontribusi Input Output. Reference Frequencies. Plot Efisiensi. Total Potential Improvement/Improvement Summary. Distribusi skor efisiensi. 

Indeks Produktivitas Malmquist. Analisis Window. DEA dua tahap. Cost Efficiency. Profit Efficiency. Model SBM. Super efisiensi. Analisis sensitivitas DEA. Analisis kuadran. Analisis stabilitas efisiensi. DEA untuk forecasting. DEA tiga tahap. Bootstraping DEA. Network DEA. DEA Dinamis. 40+ Model DEA.